Kyai Modjo ciptakan Generasi Pertama Jaton di Sulawesi Utara

Penulis: Funco Tanipu

0
111

InomasaNews – Seandainya Pangeran Diponegoro menang dalam Perang Jawa (1825-1830), mungkin tidak ada yang namanya komunitas Jawa Tondano.

Pasca kekalahan di Perang Jawa, Belanda mulai mengasingkan pejuang Perang Jawa seperti Kyai Modjo dan para pengikutnya. Rombongan 48 orang pengikut Kyai Modjo tiba di Karesidenan Manado pada tanggal 20 Oktober 1829, lalu tiba di Tondano sekitar bulan Februari – April 1830. Rombongan berikut adalah Kyai Modjo dan sisa pengikutnya yang tiba 1 Mei 1830.

Adapun Pangeran Diponegoro tiba di Manado tanggal 12 Juni 1830, beberapa bulan setelah Kyai Modjo tiba di Tondano.

Kyai Modjo dan veteran Perang Jawa tiba di daerah mayoritas Kristen. Siasat Belanda adalah untuk memperkecil gerak Kyai Modjo dan veteran Perang Jawa ini. Namun, upaya Belanda sia-sia, pendekatan Kyai Modjo dengan akhlak Islam seperti yang diajarkan Nabi Kyai tidak membuat warga Kristen Minahasa menjadi sinis, namun lebih menerima dengan tangan terbuka.

Kyai Modjo juga memperkenalkan pola pendekatan ekonomi model pertanian Jawa yang dianggap baru di kalangan Minahasa. Jadi, sederhananya; pendekatan akhlak dan budi pekerti serta pendekatan ekonomi adalah titik kunci kesuksesan veteran Perang Jawa dalam bersosialisasi dengan masyarakat Kristen Minahasa.

Gayung bersambut, beberapa warga pengasingan bisa diterima oleh warga lokal dan bahkan terikat pernikahan. Disini dimulainya generasi pertama Jawa Tondano lahir.

Pendekatan sosiologis Kyai Modjo cukup ampuh ; akhlak tinggi (+) pertanian (+) pernikahan. Hasilnya positif ; Jawa Tondano menyebar ke hampir seluruh penjuru Indonesia Timur. Bahkan masuk ke Gorontalo di awal tahun 19 an.

Kombinasi akhlak (+) ekonomi (+) pernikahan rupanya adalah pendekatan yang ampuh dalam dakwah Islam sejak dulu, sejak zaman Nabi. Islam diperkenalkan dan kini menjadi agama besar di seluruh dunia berkat kombinasi model ini, bukan pendekatan yang sifatnya radikal.

Beberapa hari lagi, komunitas Jawa Tondano di Gorontalo melaksanakan Lebaran Ketupat . Momentum ini penting untuk tonggak peringatan atas pembauran dan penyebaran Islam di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa hikmah kekalahan Perang Jawa sepertinya “berbuah manis” pada lahirnya suku bangsa baru Indonesia yang lebih produktif, teladan dan mandiri. Tanpa “kekalahan” lalu, tak ada “kemenangan” hari ini.

Semoga momentum pelaksanaan tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo oleh Komunitas Jawa Tondano dapat menberikan inspirasi baru bagi dakwah, pembauran, dan integrasi di bumi Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here