Antara olahraga “Sepak” dan Mafia “Bola”

Penulis: Rifki Tegila, S.Pd

0
277

Opini – Sepak bola yang kita tahu sebagai ajang mencari idola ternyata mengandung banyak problematika, didalamanya terdapat berbagai macam mafia.

Baru-baru ini, setelah pemberitaan mafia bola mencuat di permukaan, banyak warga-net yang sibuk mempertanyakan “PSSI Bisa Apa” baik di linimasa Facebook, instagram, twiter dan akun sosial media lainya.

Di polopori salah satu jurnalis media TV Nasional ternama Najwa Shihab, tema Mafia Bola Indonesia menjadi topik hangat dan menguat. Di setiap sudut bumi indonesia masyarakat mengajukan pernyataan kritis dan fundamental, bahwa publik hari ini menyoroti kebobrokon dunia persepak bolaan indonesia.

Keresahan publik tersebut kemudian menjadi rangkuman narasi panjang, di dalamnya digambarkan carut marut persepakbolaan yang telah terkontaminasi kepentingan ekonomi dan politik. Sedemekian persoalan yang menumpuk, kejanggalan demi kejanggalan menjadi citra buruk federasi dan negara.

Platform PSSI, mirisnya seakan-akan leluasa memainkan peranan kekuasaan yang tak kunjung membaik dan terus menerus terpuruk. Pada akhirnya PSSI dan persepak bolaan Indonesia kian hari mengalami krisis multi dimensi, Mulai dari mafia bola, sindikat pengaturan skor hingga sepak bola gajah.

Memang, penegakan hukum yang tidak secara masif dan terarah oleh PSSI dianggap penyebab bertumpuknya segala persoalan dan skandal.

Kenyataanya dari gejolak konspirasi itu, apa yang tengah di pertontonkan kepada publik jauh dari harapan masyarakat. Dari ruang-ruang percaturan kepentingan ekonomi tersebut kemudian memunculkan berbagai macam nama oknum yang mejadi dalang. Berdalih meneggakan aturan, padahal telah digadang-gadang ditawari uang dan dijadikan keuntungan.

Seharusnya Kualitas dan integritas sebagai rumusan federasi PSSI melahirkan berbagai kebijakan yang dapat dimengerti dan diterima oleh masyarakat, bukannya melahirkan kasus-kasus kepentingan ekonomi dan politik yang berulang-ulang. Dan semestinya dari tuntutan kondisi objektif tersebut itu dapat mengintropeksi, bahwa sejauh mana eksistensinya dalam penegakan kebijakan secara hukum, paling tidak terselip kebenaran bahwa PSSI adalah lembaga netral dan tidak ada keberpihakan.

Disatu sisi, kebanggan tertinggi publik terletak pada ontologi bahwa harapan agar indonesia berkembang menjadi negara maju melalui persepak bolaan. Akan tetapi kenyataanya tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi. insiden-insiden pada Persepak bolaan kita sangat beragam rentan terjadi , tindak terpuji datang dari berbagai sisi hingga akhirnya organisasi dan negara dieksekusi mafia.

Kini publik berempati terhadap persepak bolaan Indonesia, kerisauan terhadap peristiwa Mafia Bola menjadikan ritual penting bagi PSSI untuk memperbaiki citra buruknya. Kritik serta berbagai pernyataan mendasar yang lahir dari publik tersebut seharusnya menjadi kepatutan yang harus diterima sebagai sesuatu yang bertumbuh dalam menuju kemajuan, persepak bolaan kita harus mampu berevolusi.

Kita harus bisa membayangkan, semestinya dengan potensi yang dimiliki-Indonesia adalah modal lebih dari cukup atau bahkan sangat besar, untuk menjadi negara besar, negara makmur, negara maju.

Untuk mewujudkannya tentu tidak terlepas dari upaya produktif dan terarah oleh lembaga, federasi dan negara. Di dalamnya dituntut konsepsi matang PSSI sebagai kekuatan yang represif, memposisikan prestasi sebagai integritas.

Yang terjadi, Bangsa ini nyaris terancam pecah karena kepentingan ekonomi politik yang datangnya dari dunia Persepak Bolaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here